Recent post
Archive for 2018
KOMUNITAS PELAJAR DESA SERDANG
“KPEDES”
Sekretariat:
Jl. Raya Desa Serdang RT. 10 RW 03
Kecamatan Toboali, Bangka Selatan
Tlp/Hp: 081373836232
1.
PENDAHULUAN
Cikal bakal terbentuknya K’PEDES adalah eksistensi Kartesius Learning Center (KLC Bimbel
Serdang) yang merupakan wadah atau sarana dimana anak-anak bisa belajar
pelajaran sehari-hari dan belajar komputer dengan segala fasilitas seadanya
yang tersedia. Sebagai pendiri KLC, ingin memperluas cakupan pendidikan ini
tidak hanya pada materi pelajaran regular namun juga ingin mewujudkan
kegiatan-kegiatan pembelajaran positif yang penuh kreatifitas. Kami beinisiatif
untuk membangun sebuah komunitas belajar mengajar bagi anak usia sekolah lewat
Komunitas Kelompok Pelajar Desa Serdang (K’PEDES). Lewat komunitas ini kami
berharap akan terwujudnya pelajar serdang yang intelek, kreatif, cerdas dan peduli pendidikan serta menghasilkan
sebuah produk lokal bernilai jual yang mampu membangun ekonomi masyarakat
dikemudian hari.
Berbekal amanat UU Nomor
20 Tahun 2003 Pasal 26 Ayat 2 bahwa ‘Pendidikan nonformal berfungsi
mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan
dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian
profesional’. Untuk itu Pendirian
Komunitas Kelompok Pelajar Desa Serdang (K’PEDES) lewat Sarana Belajar Kartesius Learning Center (KLC) di Desa
Serdang ini dinilai layak dari sisi urgensi pengembangan mutu pendidikan di
daerah pedesaan se-Desa Serdang khususnya. Hal ini dikarenakan kemajuan
zaman yang di ikuti dengan berkembang pesatnya pendidikan serta pengetahuan di
segala bidang membuat semuanya semakin maju dan canggih. Tetapi perkembangan
tersebut penyebarannya dirasakan tidak merata. Daerah Pedesaan disebut-sebut
sebagai daerah yang tertinggal tentang pengetahuan dan teknologi komputerisasi,
kreatifitas dan perkembangan dunia pendidikan lainnya. Bagaimana tidak, masih
banyak para orang tua di pedesaan yang berpikiran bahwa sekolah hanyalah
sebagai kebutuhan sosial saja, agar tidak malu dengan tetangga, bahkan anggapan
masyarakat pedesaan tentang komputer masih merupakan barang sulit dioperasikan,
serta untuk akses internetpun masih sulit, padahal sisi positif modernisasi
komputerisasi dari sisi pendidikan begitu banyak. Bahkan pemerintah telah
menerapkan Ujian Nasional berbasis Komputer, tes CPNS berbasis komputer, dan
lain-lain program pemerintah yang berbasis komputer.
K’PEDES merupakan sarana yang dibangun untuk menampung,
merangkum, dan mengembangkan kreatifitas pelajar di Desa Serdang. Lewat program-program
yang telah disusun dan dicobakan pada kesempatan sebelumnya, kegiatan K’PEDES
yang menyenangkan dan penuh unsur pendidikan dinilai mampu memberikan efek
positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Desa Serdang khususnya. Sementara
Kartesius Learning Center (KLC)
merupakan wadah untuk memberikan fasilitas pada setiap kegiatan yang dilakukan
oleh K’PEDES yang berusaha mewujudkan anak-anak serta masyarakat pedesaan dengan
tingkat intelektual yang semakin tinggi, Cerdas, Kreatif serta melek teknologi
komputerisasi. Sarana belajar ini diharapkan akan menjadi tombak penyebar pembelajaran
yang penuh kkreatifitas dan teknologi komputerisasi dan pendidikan lain. Sarana
ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh kemampuan sebagai
bekal meningkatkan prestasi siswa di sekolah, di pekerjaan atau melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi.
Untuk itu sarana belajar
ini diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif yang dipilih masyarakat
untuk lebih menggali potensi yang dimiliki anak-anak, memperkaya ilmu dan
memberikan pelajaran yang tidak sepenuhnya didapat anak didik dari sekolah
karena keterbatasan waktu. Kartesius
Learning Center berusaha memfasilitasi setiap kegiatan dan memberikan
pelayanan terbaik untuk anak didik. Atau dengan kata lain, sarana belajar ini
dapat memenuhi kebutuhan pengembangan pendidikan setiap peserta didik tanpa
menitikberatkan biaya yang menjadi beban para orangtua peserta didik.
2.
KEPENGURUSAN
Sarana belajar ini diselenggarakan atas inisiatif pribadi didukung
rekomendasi-rekomendasi terbaik dari orang-orang di dunia pendidikan yang
mempunyai kepedulian terhadap dunia pendidikan yang berkualitas didaerah
pedesaan se-Desa Serdang khususnya.
1. Ketua K”PEDES :
Karto, S.Pd.,M.M.
2. Wakil Ketua : Ari Firmansyah
2. Wakil Ketua : Ari Firmansyah
3. Sekretaris :
Nelsi Melinda, S.Pd.
4. Bendahara : Yeni Natalia
5. Sekretaris : Heldi Apriliansyah
5. Sekretaris : Heldi Apriliansyah
6. Penasehat Operasional : Apendi
7. Anggota Kelompok Pelajar Desa Serdang : Terlampir
8. Administrator :
Weni Aprilia
3.
PROGRAM TAHUNAN KELOMPOK PELAJAR DESA
SERDANG (K’PEDES)
a. Toboali City On Fire
b. Lomba Cerdas-cermat tingkat pelajar
c. Try Out Ujian Nasional SD se-Kecamatan
Toboali.
d. Keagamaan (MTQ dan Lomba Ceramah)
Se-Kecamatan Toboali.
e. Study Tour.
4.
TUJUAN
a.
Tercapainya tujuan K’PEDES sebagai sarana
membangun anak-anak pedesaan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah
serta masyarakat umum yang intelektual yang berprestasi, berjiwa kompetitif,
kreatif, mengerti perkembangan teknologi komputerisasi dan life skill,
b.
Menumbuhkan motivasi masyarakat tentang
pentingnya dunia pendidikan dan menghasilkan produk yang bernilai jual,
c.
Membantu masyarakat untuk membangun kemampuan
dalam bekerja di era modernisasi.
5.
GAMBARAN KEGIATAN
1. Mnghasilkan pemuda-pemudi yang
semangat belajar, kreatif, dan inovatif.
2. Menjalankan program-program positif
dalam pembangunan pemuda di pedesaan.
3. Menghasilkan produk prakarya bernilai
jual,
6.
Aspek perijinan
Aspek perijinan berguna
sebagai bukti bahwa sarana belajar memiliki dasar perijinan pemerintah setempat
yang jelas. Sehingga sarana belajar yang jalankan dapat dengan mudah melakukan
kerjasama dengan berbagai instansi karena legal keberadaannya.
7. Struktur Organisasi
“Buah sawit buah
sahang
Kalau dijuel
harge e murah
Perkenalkan kami
urang herdang
Datang kehini
nek gi bekisah”
‘LEGENDA BEBALA, BETILOR DESA SERDANG’
Pada zaman dahulu, ada seorang Tumenggung dari ujung barat kepulauan Bangka Belitung yang melakukan perjalanan dan menghentikan
perjalanannya di sebuah desa terpencil yang telah berpenghuni dan memiliki
pemimpin masyarakat yang biasa disebut Pak Batin. Desa ini ditumbuhi pepohonan
yang rindang dan menjulang tinggi. Sang Tumenggung pun bertanya kepada Pak
Batin, “Pak Batin, ape ge name kampong ikak ni?” Pak Batin pun menjawab, “kami
ne idup disini atas dasar hame-hame. Hame-hame nek idup, hame-hame nek makan, hame-hame
nek betanem, nye mati dak hame-hame, jadi lom ade name yang pas untuk kampong
kami nih kah!”. Sang Tumenggung pun mengangguk-angguk. Mengiyakan perkataan Pak
Batin.
Sang Tumenggung pun terus menelusuri daratan desa
ini. Dari ujung hingga ke ujung yang lain. Tidak ada pemandangan lain selain
pohon-pohon yang lurus dan tinggi menjulang. Sang Tumenggung pun heran dan
menanyakan hal ini kepada Pak Batin,
“Pak Batin,! ku tingok ni di kampong ikak ni, hampir tiap sudut ade batang yang
tinggi-tinggi lurus tu, batang ape ge tu Pak Batin?” Pak Batin pun menjawab “Oww
itu batang serdang name e Pak Tumenggung, urg hini nyebut e batang pelindung,
pelindung dari anget mate ari, untuk tiang pundok, pukok e banyaklah gune
batang ni men di kampong ni”. Ow cemtu Pak ok!”. Sang Tumenggung pun mengetahui.
Seringnya beramah-tamah, sang Tumenggung pun menemukan
suatu keunikan di desa ini, yaitu semua masyarakatnya tidak bisa menyebut huruf
‘r’ apakah mereka cadel? Sang Tumenggung pun mencoba bertanya dengan beberapa
masyarakat. “Cik,.ngape ikak ni ku tingok-tingok, ku denger-denger, ikak ni dak
pacak nyebut huruf ‘r’?. tilor bae. imang dak pacak, ape dibuat-buat ni?”.
Ibu-ibu yang ditanya itu pun hanya bisa
tertawa sambil menjawab. ‘kami ni pacak sebener e nyebut ‘r’ Pak Tumenggung,
tapi kebiasaan kami dihini kalau kite nyebut ‘r’ la hempai begeterrr,,urang
sebut sombong atau taipau Pak Tumenggung!”. “Jadi taipau tu ade tingkatan e Pak
Tumenggung, yang pertama taipau biase, yang kedue taipau basa, yang ketige
taipau begereng. Nah Men kate urang hini, taipau e urang yang pacak nyebut ‘r’
tu lah hempai begereng. Bende e dak de tapi bau e ade, name ge lah begereng!”. “La
lah Pak Tumenggung!, kalau lah mendarah daging ni, nye digawelah hempai turun
temurun. Ular melingkar diatas pagar lah. (dengan gaya tilur).” Sang Tumenggung
pun hanya bisa tertawa mendengar penjelasan ibu-ibu tersebut. Konon katanya
orang-orang melayu Bangka masa itu merupakan orang–orang yang terbiasa
menggunakan aksen cina yang sulit menyebut huruf ‘r’.
Namun ada kebiasaan menjengkelkan yang dimiliki
warga desa ini yaitu kesenangan dalam berseloroh atau bercanda dalam obrolan. Pernah
suatu hari Tumenggung dan Pak Batin pergi memancing di suatu sungai yang sangat keruh. Lewatlah salah
seorang warga yang menanyakan. “Pak Batin, Pak Tumenggung!, banyak dak bule
ikan e?” Pak Tumenggung yang tidak tau apa-apa menjawab dengan pasti. “dak pak,
dari pagi tadi baru sikok bule e’. warga itupun berseloroh atau bebala (bahasa
Bangkanya), ‘wajarlah dak bule, hungai
macem ni kepo e, ikan nek liwat ge
betumbor dak ketingok ape lah!”. Pak Batin yang telah mengetahui sifat warganya
pun hanya bisa tertawa mendengar
penjelasan warga tersebut.
Kemudian Pak Tumenggung dan Pak Batin, memperoleh
rejeki ikan yang lumayan banyak pada salah satu sisi sungai yang ada
jembatannya. Kemudian warga yang kebetulan lewatpun menanyakan lagi, ‘Pak Tumenggung,
Pak Batin!, banyak tuh bule ikak dimane dapet e?” Pak Tumenggung pun menjawab
sambil menunjuk salah satu sisi sungai yang ada jembatannya dengan langsung
menyebut jembatan tersebut. “tuh jang, di jeramba sane!”, ucap Pak Tumenggung.
Sang wargapun berseloroh, “dooook Pak Tumenggung!, bener-bener waa, di jeramba ge la macem ni
banyak bule e, ape agik di bawah jeramba e, aik e kan dibawah jeramba pak
tumenggung?”. Pak Tumenggung terdiam, namun Pak Batin yang telah mengerti
kembali tertawa terbahak-bahak. Namun tidak dengan Pak Tumenggung yang merasa
bahwa warga tersebut sedang mempermainkannya. Itulah ‘bebala’ Pak Tumenggung, bebala
tu arti e ‘Becakap Banyak Hala e’, tapi jangan dianggep negatif Pak Tumenggung,
men dihini itulah care masyarakat ngebangun hubungan deket, hubungan
kekeluargaan, ngundang tawa ken sesame, jangan dibuik ke ati ok!.” ‘ow macem tu
Pak ok!”, Tumenggung pun mengerti.
Semakin hari semakin banyak orang-orang berdatangan
ke desa ini, dan tak satupun warga yang mampu menjawab ketika ada orang
bertanya, apa nama desa ini. Seiring waktu berjalan, Tumenggung pun menyarankan
untuk adanya sebuah nama yang mampu
mewakili seluruh isi peradaban di pedesaan ini . Akhirnya Pak Batin pun mengajak
seluruh warga untuk berkumpul dipondok milik Pak Batin untuk membicarakan
masalah nama yang akan di Pakai untuk desa ini. Pak Batin pun mengeluarkan
pendapat terlebih dahulu, “cemane kalau name kampong kite ni Kampong Bebala
atau Betilor, kan sesuai ken kebiasaan
kite di masyarakat. Namun masyarakat banyak yang tidak setuju
dikarenakan kata-kata tersebut bisa bermakna negatif bagi orang lain yang tidak
mengerti arti sebenarnya.
Setelah sekian banyak diskusi yang dilakukan
akhirnya Tumenggung menyarankan kampong ini diberi nama kampong Serdang. Jadi,
nama Serdang itu bukan berarti Serba Dangdut tetapi Serdang merupakan nama
pohon. Hingga sekarang kampong serdangpun tetap eksis di Kecamatan Toboali
Kabupaten Bangka Selatan ini dengan bebalanya, betilornya yang dikonotasikan
negatif namun sebenarnya terkandung makna yang begitu mengeratkan persaudaraan
didalamnya. Secara turun temurun,
betilor (cadel) dan bebala (berseloroh) telah mampu membangun hubungan
kekeluargaan masyarakat, mempererat batin masyarakat, mengundang tawa sesama, dan menjadi ciri khas masyarakat Desa Serdang.
Terima kasih Pak Batin, namamu akan selalu didalam Batin
masyarakat Desa Serdang, terima kasih Pak Tumenggung namamu akan selalu kami
junjung. Jayalah Desa Serdang, Jayalah Bangka Selatan.!
Sumber :
1.
Arsip Dokumen Pemerintah Desa Serdang
2. Tokoh Adat, Tokoh
masyarakat, Tetua Desa Serdang

