Recent post
Archive for 2019
27 Agustus 2016
Belum genap dua bulan saya menyelenggarakan les atau bimbingan belajar di Desa ini, saya sudah sedikit mengerti kenapa anak-anak desaku ini terkesan lamban dan kurang termotivasi untuk belajar. dari dua puluh anak yang menjadi member di KLC Bimbel, seratus persen dari mereka tidak pernah mendapatkan bimbingan dari orang tuanya mengenai pelajaran di sekolah. hal ini yang menarik untuk di telaah lebih lanjut. ternyata dari dari dua puluh orang siswa KLC Bimbel, rata-rata orang tuanya tamatan SMP atau SMA. menurut pandangan saya seharusnya orang tua mereka sudah mampu mengajarkan minimal pelajaran dasar di sekolah.
pada kenyataannya, orang tua banyak mengeluh, lupa pelajaran SD, tidak punya waktu untuk membimbing, keletihan setelah kerja, dan lain sebagainya. padahal peran orang tua dirumah sangatlah vital untuk membantu anak-anak menguasai pelajaran, di lanjutkan di Bimbel, dan assessment di sekolah. namun tahapan itu seolah-olah terputus di garis start, dimana orang tua sulit sekali menyempatkan waktu mengajarkan anak mereka, minimal operasi bilangan yang dasar-dasar.
berangkat dari itu, kami di KLC Bimbel mencoba sebuah kegiatan, yang bertujuan untuk memotivasi orang tua siswa agar mau, tau, dan ingat kembali pelajaran-pelajaran dasar di Sekolah Dasar. soal-soal yang ditampilkanpun beragam, dari yang lucu, menjebak dan serius. hal ini agar orang tua siswa tidak merasa kesulitan dan memahami bahwa belajar memang seru dan dibutuhkan seumur hidup.
disini kami melihat sebuah gairah dalam pelaksanaannya. beberapa orang tua bahkan tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban peserta lainnya. dari mereka bahkan baru ada yang ingat kembali tentang operasi dasar matematika. bahkan ketika ditanya burung garuda pancasila, kepalanya menghadap kemana? para orang tua dengan antusias mengingat dan beberapa dari mereka bahkan mencari gambarnya didinding-dinding kelas. berbagai pertanyaan lokal pun dilontarkan, dari mulai siapa nama ketua RT, Kades, Kadus, nama Masjid, nama Mushola dan lain-lain.
harapan kami di KLC Bimbel, ini dapat menjadi motivasi tersendiri bagi orang tua sehingga para orang tua memperoleh rasa asyik juga ketika belajar bersama dengan anaknya dirumah. harapan kedepannya dengan adanya kegiatan ini yang dilaksanakan setiap tahun menjadi ajang yang ditunggu-tunggu para orang tua dan secara tidak sadar mampu memotivasi orang tua untuk menyempatkan waktu belajar bersama anaknya.
Satu hal yg tidak bisa terelakan adalah saya lahir, dibesarkan, tumbuh dewasa, oleh ibu dan ayah yg bukan pemilik perusahaan besar, bukan menteri, bukan PNS, bukan pilot, bukan apapun jenis karir yg selama ini membuat paradigma berfikir takjub bagi orang lain. Yg bahkan mayoritas mereka berfikir tujuh turunan dari jenis karir tersebut tidak akan susah hidupnya.
Ini menarik, karena saya hanyalah seorang anak petani lada. Yg kadang bergantung pada alam. Kalau saja ayah saya tidak jeli melihat anaknya dari kecil mungkin saya sdh disediain tanah untuk seperti beliau. Tpi tidak, ayah saya memiliki analisis manajemen SDM yg hebat, beliau mngumpulkan data tentang anaknya sendiri, yangg beliau beri kesimpulan sendiri 'anak saya tidak seperti saya, dari sepuluh batang cabe yg dtanam anak saya dan saya, satu yg mati (tidak tumbuh) dan sudah saya tandai, itu ditanam anak saya'.
kedua orang tua itu, mereka bingung berbahasa ketika dimintai kesan tentang anaknya, bingung makan ala eropa, bingung naik lift, takut naik eskalator, minder dengan kendaraan orang, takut ketika naik pesawat, tapi mereka tak boleh direndahkan orang kaya manapun,orang berilmu manapun atau pejabat manapun. Mereka tak berpendidikan tinggi, tapi tak rendah akan semangat pendidikan di diri anaknya. Menunda apapun yg ingin dibeli, Pagi hingga malam, berdiri tidur berdiri lari. coba bayangkan jenjang mana dari dunia pendidikan yang bisa mengalahlan level mereka.? jabatan mana yang kinerjanya lebih sibuk dibanding mereka?
Maafkanlah atas tak sebandingnya apa yg saya beri dengan apa yang mereka korbankan sekarang. Hanya bisa memohon, lebih lama mereka didunia. mereka tak boleh lagi direndahkan. Level mereka lebih tinggi dri saya, berarti untuk mewujudkannya saya hanya perlu memperbaiki diri, trus belajar, berkarir yg baik, ibadah yg membaik, menantu yg menghormati mereka, cucu yg menyayangi mereka. Semoga tak kehabisan waktu didunia, untuk tiba dimasa tua mereka yg dihabiskan lebih bnyk bersantai diatas pundak anaknya, utk dijadikan pertimbangan akan dimana mereka ditempatkan ketika tak lagi beersuara kelak. Semoga adanya saya dari darah mereka, kelak dapat membahagiakan mereka dimanapun itu.
Jadi ini sangat menarik...bagaimana saya akan berusaha menjalani sisa hidup kedpan menjadi lebih besar. Saya tidak bilang saya pasti berhasil. Yg akan saya tegaskan adalah saya pasti akan berusaha. Tidak ada kata terlambat. Saya masih muda. Mungkin ketidakseriusanku dimasa lalu membuatku krg diperhitungkan, 2 kali lulusan universitas swasta dikota yg lbh dikenal dgn kekerasannya dibandingkan pendidikannya.
Anak petani, bukan lulusan universitas Terbaik, berjuang untuk berada pada level yg sama dengan orang-orang dari 7 turunan diatas. Terdengar seperti peter parker yg cupu ingin bergabung dengan the avenger, terlihat mustahil, tapi itu sebelum dia mnjadi spiderman. Dan sekarang dia sudah pada level yg sama dengan the avenger..
Sekali lagi saya tegaskan, belum tentu berhasil tapi sudah pasti akan diusahakan.
Perbedaan generasi dalam lingkungan
kemasyarakatan adalah subjek yang selalu muncul
dalam perkembangan manajemen sumber daya manusia. Konsep perkembangan
generasi pun berkembang pesat dari tahun ke tahun. Menurut Kupperschmid (dalam
Putra, 2016) generasi adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan rentang tahun
lahir, lokasi dan juga pengalaman historis atau kejadian-kejadian dalam
individu tersebut yang sama yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase
pertumbuhan mereka. Dalam penelitian Bencsik, Zsicos, dan Juhez (2016) disimpulkan
bahwa generasi X adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1960 hingga
tahun 1980, generasi Y atau Generasi Millennial dalam rentang tahun kelahiran
1980 hingga tahun 1995 dan Generasi Z memiliki rentang lahir 1995 hingga 2010,
serta tahun kelahiran 2010 keatas merupakan Generasi Alpha.
Generasi Y disebut juga Generasi Millennial
memang tengah menjadi pusat perhatian dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal
ini dikarenakan jumlah dan posisi Generasi Millennial sedang mendominasi
seluruh lapangan pekerjaan maupun usaha mandiri mengingat usia millennial memang
sedang berada dalam usia produktif. Generasi ini lahir pada saat internet
sedang booming dan telah mampu
menggunakan teknologi instan seperti email, SMS, facebook, dan twitter, (Lyons,
2004). Generasi Y dan generasi Z pada dasarnya memiliki cukup banyak kesamaan
yaitu keduanya lahir disaat internet bukan lagi menjadi suatu kebutuhan yang
sulit didapatkan. Perbedaan yang dapat kita amati adalah generasi millennial
lahir pada saat internet booming
sedangkan generasi Z lahir pada saat internet mulai berkembang pesat. Tidak
heran jika anak-anak generasi Z sejak dini sudah mampu mengaplikasikan segala
kegiatan dalam waktu bersamaan (multitasking)
seperti berbisnis di media sosial misalnya. Informasi yang dibutuhkan untuk
kepentingan pendidikan pun akan mereka akses dengan cepat dan mudah.
Berdasarkan rentang lahirnya, generasi Z
sekarang didominasi oleh pelajar sekolah maupun mahasiswa yang mulai lulus
kuliah dan memasuki lapangan pekerjaan. Hadirnya generasi ini menimbulkan
optimisme dalam perkembangan sumber daya manusia di dalam memasuki era Industri
4.0. ini. Generasi Z ini harus berkembang dalam segala aspek dibandingkan generasi-generasi
sebelumnya. Cukup banyak fasilitas pendukung perkembangan generasi ini. Generasi
Z yang berstatus pelajar tentu terbantu dengan perkembangan kurikulum sekarang
di sekolah masing-masing yang berbasis kemandirian. Ditambah lagi dengan adanya
penekanan pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk generasi Z sesuai
dengan harapan pengaplikasian pendidikan karakter itu sendiri. Generasi Z yang
bersatus mahasiswa di suatu perguruan tinggi difasilitasi dengan kemajuan pesat
teknologi dibanding fasilitas perguruan tinggi di generasi-generasi sebelumnya.
Mahasiswa generasi Z dituntut agar lebih mampu menjiwai tri darma perguruan
tinggi, bukan sekedar slogan kewajiban kampus yang harus dihapal, bukan hanya
kewajiban dosen tetapi menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai cerminan utama kualitas diri dan perguruan tinggi.
Dengan segala bentuk fasilitas yang
menjadi alat bantu perkembangan generasi Z tersebut tentu menimbulkan harapan
yang besar. Yang pertama, generasi Z harus lebih anti Hoax dibanding generasi sebelum-sebelumnya. Jika sebelumnya pertukaran
informasi yang begitu cepat yang memuat suatu konten atau peristiwa langsung
disebarluaskan menjadi konsumsi publik, hal ini jangan dilakukan lagi pada
generasi Z ini. Generasi Z yang menjiwai tri darma perguruan tinggi dan
berkarakter harus mampu membuat kemudahan memperoleh informasi ini menjadi alat
pengumpulan data riset terlebih dahulu sehingga valid kebenarannya ketika
sampai dimasyarakat luas. Yang kedua, generasi Z harus lebih bijak karena kemudahan
akses mempelajari suatu permasalahan serta belajar dari pengalaman generasi
sebelumnya. Generasi Z dituntut untuk berpikir dan bertindak secara bijak,
memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang santun, diplomatis, dan modern
yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Generasi Z bukan
sekedar generasi take a selfie or wefie yang terlalu banyak posting
kegalauan di medsos. Generasi Z bukan pula generasi Zombie, yang memutus
realitas interaksi sosial dan lebih sibuk didunia maya. Generasi ini harus
mampu menjawab segala bentuk tantangan perubahan di segala aspek kehidupan.
Generasi ini akan menjadi pilar dalam memasuki revolusi industri 4.0, menjadi agen-agen
yang memperkenalkan bahkan membangun teknologi ter-update demi terciptanya generasi-generasi Indonesia yang intelek,
berpikir kritis dengan riset, dan berkarakter. Generasi Z telah memiliki
teknologi yang jauh lebih berkembang semenjak usia dini, maka dari itu bukan
tidak mungkin anak-anak generasi Z akan mampu menciptakan dan memanfaatkan
teknologi lebih canggih untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan
produktivitas sumber daya manusia kita.Sekitar tiga sampai empat bulan sebelum pesta demokrasi di Indonesia, barang tentu berbagai atribut calon wakil rakyat bertebaran bagai daun di jalanan. begitupun tahun ini, menjelang Pemilu tersibuk dan terumit sepanjang sejarah di Indonesia ini, berbagai visi misi calon terpampang 'beken' di spanduk-spanduk masing-masing. pemilu tersibuk bukan hanya menjadi gambaran konyol bagi pemilu kali ini, bagaimana tidak, ada lima surat suara dengan berbagai warna yang harus di coblos. surat suara untuk Capres dan Cawapres, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten.
perhatian khusus yang sedikit menggemaskan adalah cara para calon legislator untuk mendekati masyarakat di desa-desa khususnya, dengan harapan menjadi lumbung suara bagi caleg yang bersangkutan. dari mulai kampanye dengan legalitas hingga kampanye dengan sembunyi-sembunyi.
dari yang sempat terusir panwaslu hingga yang aman tanpa hambatan. mengadakan berobat gratis, mengadakan hiburan, mengadakan banyak hal, sehingga cukup pantas masa-masa ini disebut sebagai pesta bagi masyarakat. jika diamati dengan saksama, dari bahasa tubuhpun kita mampu membedakan yang mana caleg yang mana bukan caleg. senyum lebar, 'kelakar besar', 'saya yang bayar', merupakan ciri khas caleg yang hampir keseluruhan caleg menerapkannya. salahkah? tentu saja tidak, kita tidak bisa menyalahkan caleg untuk berusaha menarik simpati masayarakat menjelang pemilihan ini.
kita tahu bersama, caleg juga manusia biasa, kemampuan menjangkau setiap lekuk aspirasi masyarakat itu sulit. maka dari itu mereka kerap menjadikan salah satu atau beberapa orang di setiap desa untuk menjadi penyambung lidah masyarakat ke caleg terserbut yang berusaha mensosialisasikan figur kepada masyarakat. salah lagi kah itu? tentu saja tidak, sah-sah saja jika ingin menjadi tim sukses seorang caleg, namun disinilah yang menjadi permasalahan. sebagian besar orang-orang timses yang berani membawa caleg masuk ke daerah masing-masing adalah orang-orang yang mempunyai visi prematur. visi yang hanya muncul sebelum tanggal pencoblosan dan habis ketika selesai pencoblosan. orang-orang seperti inilah yang sebenarnya membuat kesan pemilu dan para caleg menjadi negatif dimasyarakat.
kita tidak bisa menyalahkan caleg sepenuhnya, yang terkesan datang ketika ada maunya saja. sekali lagi keterbatasan mereka sebagai manusia tentu menjadikan hal tersebut sebagai halangan. lalu bagaimana agar kinerja caleg ini dikemudian hari mampu dirasakan oleh warga kecil? kinerja berkesinambungan yang walaupun dewan tersebut tidak selalu standby ke masyarakat namun program-programnya mampu dirasakan selalu oleh masayarat, bagaimana hal tersebut terwujud? peran tim sukseslah yang menjadi vital ketika caleg tersebut dilantik. dalam arti kata tim yang dibentuk oleh caleg tersebut haruslah menjadi tim sukses yang sukses membuat calegnya dilantik dan tim yang sukses membawa kinerjanya ke masyarakat selama yang bersangkutan menjabat. namun sekarang ini kebanyakan tim sukses berhenti bekerja ketika calegnya telah dilantik, masyarakatpun tak merasakan apapun ketika yang bersangkutan menjabat.tim sukseslah yang paling dekat dengan masyarakat, maka ayo berusaha menjadikan masyarakat kita lebih cerdas untuk memilih, mana yang memiliki visi besar dan mana yang hanya omongan besar.
jadi pada intinya, setiap tim maupun individu yang berani mempromosikan caleg manapun harus telah memiliki program-program sebagai fondasi untuk dibangun ketika caleg yang didukung dilantik. bukan sekedar visi prematur dengan program gesek jempol telunjuk kepada masyarakat.
semoga para wakil rakyat yang dilantik pada tahun ini adalah para wakil rakyat yang telah memiliki program dengan fonndasi kuat di dapil masing-masing hingga siap dibangun ketika mereka sudah dilantik, bukan mereka-mereka yang kebingungan dan terbang diatas karena dibawah telah menerima kode gesek jempol telunjuk.Jangan menjadi tim sukses yang sukses membawa calegnya dilantik namun tidak sukses membawa kinerja calegnya terasa di masyarakat yang dibujuknya.
by: Karto Kpedes
by: Karto Kpedes




