Recent post
Archive for 2025
Penulis : Karto, S.Pd.,M.M.
Pengajar di SMP Negeri 8 Toboali
Sekolah di
Indonesia memang sedang gencar menggalakkan program penanganan Kekerasan atau Bullying baik secara verbal maupun
secara fisik yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik korbannya. Bahkan
disetiap sekolah telah dibentuk sebuah Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK)
Sekolah. Saya sendiri diamanahkan untuk menjadi ketua Tim ini di sekolah tempat
saya mengajar. Sedikit demi sedikit, saya mulai mempelajari tentang hal ini,
perilaku bully dan hal-hal
penyertanya. Dari pengalaman sendiri di sekolah, pengalaman guru-guru disekolah
lain, artikel-artikel tertentu, dan berbagai sumber bacaan lainnya, ada hal
menarik yang saya pelajari mengenai pencegahan dan penanganan perilaku bully ini yaitu perilaku tandingan lain
yang juga cukup berbahaya jika tidak diantisipasi yaitu playing victim. Menurut Kate Martindale dalam buku What Does Playing Victim Mean, playing
victim adalah peran yang dimainkan oleh seseorang sebagai korban untuk
mendapatkan perhatian atau memanipulasi suatu keadaan. Seseorang yang memainkan
peran sebagai korban ini akan membuat orang di sekitarnya berusaha masuk ke
dalam permainan mereka. Kalau ibu-ibu yang sering nonton sinetron disalah satu
televisi Indonesia pasti tau pola perilakunya yang tidak jauh dari konflik antara
menantu dan mertua, antar teman kampus, sesama pedagang, antar pegawai mencari
simpati atasan, atau bahkan antar istri pertama dan kedua, waduhhh.
Akibat dari
perilaku ini juga tidak bisa dianggap ringan. Banyak sekali kasus-kasus di
sekolah ataupun di masyarakat tentang bullying
yang ditelan mentah-mentah dan si pelaku langsung mendapat label jahat, nakal,
dan tidak memiliki adab, padahal kejadian sebenarnya belum tentu seperti itu. Padahal
yang mengaku dibully tidaklah sebenar-benarnya mengalami tindakan tersebut. Akibatnya
pun tidak main-main guys, bisa penjara, sanksi sosial, penyakit mental dan lain
sebagainya yang sudah tentu tidak kalah dari efek yang diakibatkan dari
perilaku bully yang selama ini kita
takutkan.
Sebagai guru
maupun orang tua dirumah saya pribadi harus mulai memberi perhatian lebih
terhadap hal ini mengingat akibat yang dtimbulkan juga sangat berbahaya.
Bayangkan mental anak-anak yang dituduh melakukan bully terhadap salah satu anak hanya dikarenakan suka atau tidak
suka, akan banyak wali murid yang beradu argumen dengan wali murid lainnya dan
saling mempertahankan bahwa anaknya adalah anak baik-baik dirumah, akan banyak
pertengkaran wali murid dan guru terjadi hanya karena pola sikap anak yang
ditunjukkan berbeda antara dirumah dan disekolah, banyak pekerja kehilangan
pekerjaannya dikarenakan laporan-laporan sepihak pegawai lain yang tidak valid
kepada atasannya. Disamping pencegahan dan penanganan bully yang juga sangat penting, mendalami adanya perilaku playing victim juga penting untuk
dilakukan, sebagai orang tua maupun sebagai pemegang otoritas tertentu agar
tidak menelan mentah-mentah laporan tentang bully
karena bisa diperhatikan bersama, perilaku dikalangan remaja sekarang ini
sangat ringan sekali mengaku korban bully
padahal faktanya di lapangan berbanding terbalik.
Kalau di sepak
Bola sudah ada Video Assistant Referee
(VAR) yang tugasnya membantu wasit memeriksa kembali keputusan dilapangan
terutama si pemain yang diving atau
tidak, maka TPPK di sekolah diharapkan dapat menjadi VAR bagi orang tua maupun
guru dalam menelaah kasus-kasus bullying
yang melibatkan murid, bahkan antar guru, antar wali murid dan tidak menelan
mentah-mentah laporan tertentu sehingga menimbulkan keputusan yang merugikan
orang lain. Mencegah dan menangani bully
sangatlah penting, namun mengantisipasi playing
victim dan memberi kesadaran kepada murid mengenai bahayanya perilaku ini juga
selayaknya diperhatikan, jangan sampai terjadi ‘korban bully ternyata pelaku bully’.
Penulis: Karto, Peraih Juara I Guru Inovatif
Terbit pula di timelines 8 November 2024
Jambore GTK Hebat 2024 yang sebelumnya bernama apresiasi guru, tahun ini sukses diselengarakan BGP seluruh Indonesia, tidak terkecuali Bangka Belitung. Penyelenggaraannya jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Kategorinya pun tidak hanya guru namun juga tenaga kependidikan, pengawas, kepala sekolah,dan komunitas belajar pada satuan pendidikan, terbagi kedalam dua kategori besar yaitu inovatif dan dedikatif. Jika dahulu wawancara peserta via online, kemudian sang juara dipanggil untuk mengambil penghargaan saja, tahun ini berbeda.
Vibes-nya sama persis dengan ujian skripsi atau tesis di perguruan tinggi cuma agak lebih horor sedikit karena selain juri yang berasal dari dosen berbagai kampus ternama seperti UNJ dan lain-lain, audiens juga diberi kesempatan bertanya, mengulik sedalam-dalamnya program sekolah yang kita presentasikan. AC dingin hotel Soll Marina Pangkalpinang tidaklah lagi berasa. Dari pagi hingga malam selama dua hari, setiap kategori yang terdiri dari 5 besar peserta diberi waktu kurang lebih dua setengah jam, masing-masing 10 menit presentasi untuk setiap peserta. Sisanya apa? Yups “pembantaian” hehe
Empat sesi pertanyaan yang cukup mendebarkan. Sesi pertama, pertanyaan yang mengulik tentang program disampaikan oleh moderator untuk setiap peserta, sesi kedua pertanyaan super-super kritis oleh tim juri, sesi ketiga saling lempar pertanyaan antar peserta, dan sesi terakhir pertanyaan dari audiens lalu ditutup closing statement tiap peserta agar juri semakin yakin. Beradu data,argumen,dan sedikit nuansa debat.
Alhamdulillah, rejekinya berpihak pada keluarga besar SMPN 8 Toboali. Sekolah kecil, si bungsu negeri di Kecamatan Toboali. Dengan presentasi yang dibawakan Karto lewat program sederhananya yaitu TALENT WEEK, sebuah program yang mengintegrasikan kegiatan P5 dengan aktivitas pengembangan bakat berhasil meraih peringkat 1 dan Insyaallah salah satu dari banyak kategori yang mewakili Bangka Belitung di kancah Nasional. Sempat minder memang di mana pesaingnya dengan substansi keren-keren. Pemanfaatan AI, AR, diferensiasi produk, konten, dan lain sebagainya dengan akronim program yang gokil-gokil.
Dari statemen juri, dapat diambil kesimpulan, apa yang membuat juri terkesan yaitu Talent Week adalah program kolaborasi, kepala sekolah, guru,TU, wali murid dan murid.Setiap murid unik, maka filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa guru harus menghamba pada murid harus dilaksanakan. Sekolah kita memang kurang kaya dari segi fasilitas, prestasi, dan lain-lain, kita cuma punya satu kekayaan yaitu kolaborasi keluarga spendela CERIA. Mari kita jaga jangan sampai goyah, semoga tetap kompak dan Ceria, Insyaallah SMPN 8 Toboali ‘Lumpat Jao’.
Berikut daftar juara lomba Jambore Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024 asal Kabupaten Bangka Selatan:
1. Yani Septiani, S.Pd/SMK Negeri 1 Simpang Rimba [Juara 1 Guru SMK Dedikatif]
2. Karto, S.Pd., M.M/SMP Negeri 8 Toboali [Juara 1 Guru SMP Inovatif]
3. Ari Nurhidayah, A.Md/SD Negeri 9 Toboali [Juara 1 Tenaga Administrasi Sekolah]
4. Jamjam Sapaat, S.Pd/SMP Negeri 1 Simpang Rimba [Juara 2 Guru SMP Dedikatif]
5. Jasman, S.Pd.Ekop.M.Pd/SMA Negeri 1 Lepar Pongok [Juara 3 Kepala Sekolah Dedikatif]
6. Komunitas Belajar Komunikasi/SMAS Muhammadiyah Toboali [Juara 2 Komunitas Belajar Inspiratif]


.png)

