Recent post
Archive for Juli 2025
Penulis : Karto, S.Pd.,M.M.
Pengajar di SMP Negeri 8 Toboali
Sekolah di
Indonesia memang sedang gencar menggalakkan program penanganan Kekerasan atau Bullying baik secara verbal maupun
secara fisik yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik korbannya. Bahkan
disetiap sekolah telah dibentuk sebuah Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK)
Sekolah. Saya sendiri diamanahkan untuk menjadi ketua Tim ini di sekolah tempat
saya mengajar. Sedikit demi sedikit, saya mulai mempelajari tentang hal ini,
perilaku bully dan hal-hal
penyertanya. Dari pengalaman sendiri di sekolah, pengalaman guru-guru disekolah
lain, artikel-artikel tertentu, dan berbagai sumber bacaan lainnya, ada hal
menarik yang saya pelajari mengenai pencegahan dan penanganan perilaku bully ini yaitu perilaku tandingan lain
yang juga cukup berbahaya jika tidak diantisipasi yaitu playing victim. Menurut Kate Martindale dalam buku What Does Playing Victim Mean, playing
victim adalah peran yang dimainkan oleh seseorang sebagai korban untuk
mendapatkan perhatian atau memanipulasi suatu keadaan. Seseorang yang memainkan
peran sebagai korban ini akan membuat orang di sekitarnya berusaha masuk ke
dalam permainan mereka. Kalau ibu-ibu yang sering nonton sinetron disalah satu
televisi Indonesia pasti tau pola perilakunya yang tidak jauh dari konflik antara
menantu dan mertua, antar teman kampus, sesama pedagang, antar pegawai mencari
simpati atasan, atau bahkan antar istri pertama dan kedua, waduhhh.
Akibat dari
perilaku ini juga tidak bisa dianggap ringan. Banyak sekali kasus-kasus di
sekolah ataupun di masyarakat tentang bullying
yang ditelan mentah-mentah dan si pelaku langsung mendapat label jahat, nakal,
dan tidak memiliki adab, padahal kejadian sebenarnya belum tentu seperti itu. Padahal
yang mengaku dibully tidaklah sebenar-benarnya mengalami tindakan tersebut. Akibatnya
pun tidak main-main guys, bisa penjara, sanksi sosial, penyakit mental dan lain
sebagainya yang sudah tentu tidak kalah dari efek yang diakibatkan dari
perilaku bully yang selama ini kita
takutkan.
Sebagai guru
maupun orang tua dirumah saya pribadi harus mulai memberi perhatian lebih
terhadap hal ini mengingat akibat yang dtimbulkan juga sangat berbahaya.
Bayangkan mental anak-anak yang dituduh melakukan bully terhadap salah satu anak hanya dikarenakan suka atau tidak
suka, akan banyak wali murid yang beradu argumen dengan wali murid lainnya dan
saling mempertahankan bahwa anaknya adalah anak baik-baik dirumah, akan banyak
pertengkaran wali murid dan guru terjadi hanya karena pola sikap anak yang
ditunjukkan berbeda antara dirumah dan disekolah, banyak pekerja kehilangan
pekerjaannya dikarenakan laporan-laporan sepihak pegawai lain yang tidak valid
kepada atasannya. Disamping pencegahan dan penanganan bully yang juga sangat penting, mendalami adanya perilaku playing victim juga penting untuk
dilakukan, sebagai orang tua maupun sebagai pemegang otoritas tertentu agar
tidak menelan mentah-mentah laporan tentang bully
karena bisa diperhatikan bersama, perilaku dikalangan remaja sekarang ini
sangat ringan sekali mengaku korban bully
padahal faktanya di lapangan berbanding terbalik.
Kalau di sepak
Bola sudah ada Video Assistant Referee
(VAR) yang tugasnya membantu wasit memeriksa kembali keputusan dilapangan
terutama si pemain yang diving atau
tidak, maka TPPK di sekolah diharapkan dapat menjadi VAR bagi orang tua maupun
guru dalam menelaah kasus-kasus bullying
yang melibatkan murid, bahkan antar guru, antar wali murid dan tidak menelan
mentah-mentah laporan tertentu sehingga menimbulkan keputusan yang merugikan
orang lain. Mencegah dan menangani bully
sangatlah penting, namun mengantisipasi playing
victim dan memberi kesadaran kepada murid mengenai bahayanya perilaku ini juga
selayaknya diperhatikan, jangan sampai terjadi ‘korban bully ternyata pelaku bully’.
