Popular Post

Postingan Populer

Recent post

Archive for 2020

 semua berawal dari pertanyaan 'bagaimana jika'?

sebuah ide sederhana yg akhirnya di eksekusi oleh ibu surya desa serdang, dengan perandaian dan angan2 bagaimana jika:
1. permintaan meningkat,produksi meningkat, maka akan muncul alternatif hasil pertanian baru bgi masyarakat disamping menunggu trus menanjaknya nilai jual hasil pertanian utama dipedesaan ini.
2. permintaan meningkat,produksi meningkat, maka setiap anggota komunitas yg memasarkan akan mendapat persentase hingga mgkin saja bisa membantu org tua masing2 dalam hal perekonomian.
3. permintaan meningkat,produksi meningkat, maka kas komunitas dalam menjalankan setiap program tahunan komunitas yg harus ditunda karena pandemi ini dapat berjalan trus dikemudian hari.
bagaimana harusnya bgitu? dukungan masyarakat, kritik dan saran, posting2, sangat kami harapkan. bukan bagi keuntungan pribadi semata, bnyk hal terlibat didalamnya.
semua masih trlalu dini, juga kadang ditertawakan, tapi tak ada salahny aksi, mari kawan2 kita berusaha mewujudkan 'bagaimana jika' ini.






HARAPAN DI JAHEME KPEDES


BUBUK  JAHE MERAH KPEDES SERDANG
'ORIGINAL HOMEMADE'

Desa Serdang, merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan. Banyak potensi yang dimiliki desa ini dari segala aspek diantaranya pariwisata, hasil pertanian dan perkebunan, hasil nelayan, dan lain sebagainya. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah namun belum begitu banyak yang berniat mengolahnya menjadi suatu produk yang bernilai  tinggi di pasaran.
salah satunya adalah jahe merah. jahe merah merupakan rempah-rempah yang memiliki khasiat yang begitu banyak terutama dalam menjaga daya tahan tubuh kita. Jahe merah dikenal dan dirasa lebih mampu menghangatkan tubuh dibanding dengan jahe putih yang biasanya digunakan untuk bumbu dapur oleh masyarakat.
inisiatif pengolahan jahe merah menjadi bubuk jahe merah yang siap seduh ini salah satunya adalah dari situasi sekarang ini dimana kita sangat membutuhkan minuman herbal yang dipercaya berkhasiat menjaga daya tahan tubuh agar selalu prima menghadapi situasi yang kurang menentu ini. melimpahnya perkebunan jahe merah milik bapak saya sendiri di Desa Serdang ini juga membuat saya memutar otak untuk menemukan ide yang membuat jahe merah ini menjadi bahan hasil perkebunan yang bernilai tinggi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rahel Yuana Sadikin dkk (2018) membuktikan bahwa selain ekstrak jahe merah dapat digunakan untuk luka yang mengalami infeksi atau luka yang tidak cepat sembuh, meminum ekstrak jahe merah sebelum luka terjadi juga dapat membantu mempercepat penyembuhan jika nantinya terjadi luka. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak jahe merah (Zingiber Officinale var. rubrum) selama 3 hari dapat menurunkan jumlah sel makrofag pada luka bersih mencit (Mus musculus) jantan. 
Dalam artikel yang ditulis oleh Dr. Masteria Yunovilsa Putra (Kepala penelitian Center for Drugs Discovery and Development Pusat penelitian bioteknologi LIPI) menyebutkan bahwa;
1. jahe merah memiliki aktivitas sebagai immunomodulator untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia. 
2. Masteria menambahkan mengkonsumsi jahe merah dapat menjadi langkah pencegahan penyakit melalui peningkatan daya tahan tubuh. 
3. Jahe merah juga memiliki beberapa aktivitas farmakologis lainnya. Sepertinya menurunkan tekanan darah, antibakteri, menurunkan asam urat, hepatoprotektor, menurunkan kadar kolesterol, aprodisiak, pencegahan penyakit kronis degeneratif seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes pada lansia.

Jahe merah Kpedes Serdang dijamin 100% original homemade tanpa pengawet dan pemanis buatan. bagi yang ingin mencoba silahkan order di 4 online marketplace terbesar di Indonesia (Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan Lazada) dengan kata kunci : Bubuk Jahe Merah Kpedes Serdang.

Salam sehat!

 

            

 

            Nama       : Nurul Fadilah      

            TTL         : Serdang,1 Februari 1999  

            Agama     : Islam

            Pekerjaan : Mahasiswi IAIN SAS BABEL

            Jurusan     : Perbankan Syariah

            

  Media               : https://swakarya.com/peluang-membuka-wirausaha-di-tengah-pandemi-covid-19/

Tanggal Terbit    : 27 Juni 2020

 

Covid-19 merupakan virus corona yang berasal dan pertama kali muncul dari kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019, tidak perlu waktu lama setelah penyebarannya, WHO menetapkan status wabah global atau pandemi Covid-19. Di duga Covid-19 ini berasal dari hewan kelelawar dan setelah di telusuri, orang-orang yang terinfeksi virus ini merupakan orang-orang yang memiliki riwayat telah mengunjungi pasar basah makanan laut dan hewan lokal di Wuhan, China. Indonesia merupakan salah satu negara yang terinfeksi pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 yang menyerang dunia pada tahun ini cukup mempersulit keadaan  ekonomi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Bagaimana tidak, harapan adanya perbaikan ekonomi di tahun ini menjadi tertunda dengan datangnya wabah covid-19. Virus yang berasal dari China ini berhasil menyebar secara cepat dan luas ke berbagai negara, berhasil membuat ekonomi dunia kewalahan dan memicu munculnya krisis baru. Banyak perusahaan yang memulangkan para perkejanya dikarenakan harus mematuhi protokol kesehatan, dalam hal ini tentu saja banyak elemen masyarakat dan pelaku usaha yang dirugikan terutama pada sisi ekonomi.

Masyarakat dianjurkan untuk berada dirumah saja sebagian memang masih dapat melakukan dan menyelesaikan pekerjaannya melalui daring meskipun sedang berada dirumah. Namun, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dirumah. Lalu, bagaimana solusi bagi mereka yang tidak dapat bekerja dari rumah? Salah satu solusi untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memperoleh pendapatan dari rumah adalah berwirausaha.

Pelaku usaha dapat melakukan dan melihat peluang usaha selama Covid-19, dapat kita lihat bahwa peluang usaha selama masa Covid-19 lumayan memberi celah bagi pelaku usaha. Para pelaku usaha harus dapat menentukan strategi agar tetap memenuhi kebutuhan konsumen, dari sini pelaku usaha dapat menerapkan sistem pesan antar karena berkaitan dengan anjuran pemerintah yang mengharuskan masyarakatnya berada dirumah saja dengan adanya pesan antar (delivery) para konsumen tidak perlu lagi keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan seperti bahan pokok, makanan cepat saji, makanan ringan, bahkan keperluan yang lainnya.

Dalam kondisi ekonomi yang menghimpit sebagian banyak orang seperti ini harus pandai menangkap peluang, salah satu alternatif memulai usaha yaitu memulai usaha dari kejadian. Pilihan bagi pelaku usaha pada kondisi ini adalah memilih tetap bergerak pada jenis usaha yang sudah ada sebelum masa Covid-19 dengan menerapkan strategi baru, dapat menarik minat konsumen dan inovasi baru, atau memilih untuk bergerak pada jenis usaha baru yang unik dan muncul melalui kejadian, peluang seperti ini jangan sampai terlewatkan karena bagi pelaku usaha, peluang usaha yang seperti inilah kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Karena jika tidak pandai dalam menangkap peluang usaha kondisi ekonomi akan semakin terhimpit dan kesempatan yang ada pun akan terbuang sia-sia tanpa menghasilkan manfaat bagi orang lain. 

Pelaku usaha juga harus dapat berpikir kreatif dan inovatif apalagi kondisi seperti ini menuntut para pelaku usaha untuk memikirkan dan mempertimbangkan pemikiran-pemikiran baru. Dalam kondisi seperti ini pelaku usaha juga harus mempertimbangkan penetapan harga jual, harga jual yang ditetapkan pada suatau barang atau jasa yang akan dijual kepada konsumen harus sesuai dengan daya beli konsumen, jika harga yang ditetapkan berada pada titik diatas titik daya beli konsumen maka konsumen tidak dapat mendapatkan barang atau jasa tersebut, pelaku usaha pun kemungkinan kecil untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Berlaku sebaliknya, jika harga jual berada pada titik balance dengan daya beli konsumen, maka tingkat penjualan berpeluang akan meningkat meskipun pada kondisi yang seperti ini.


LAGILAGI PPDB


Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah membuat berbagai aktivitas-aktivitas yang semestinya dianggap mainstream menjadi aktivitas-aktivitas yang ekstrim jika dilakukan. Memang sulit untuk diterima ketika kita harus menuruti himbauan pemerintah untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang bahkan telah auto-pilot bagi fungsi otak dan tubuh kita. Aktivitas-aktivitas biasa seperti berkumpul bersama teman-teman, pergi ke pasar, sekolah, ke tempat wisata, bersalaman bahkan sholat berjamaah telah menjadi aktivitas yang ekstrim jika kita tetap memaksa untuk melakukannya. Semua kalangan mengalami  dampak yang cukup signifikan dari pandemi ini, tak terkecuali para remaja yang berstatus pelajar dan mahasiswa.

Selama lima sampai dengan enam hari dalam satu minggu, remaja-remaja ini biasanya mempunyai kehidupan yang cukup berat namun pula menyenangkan bersama keluarga baru yang sebaya mereka. Interaksi remaja di kehidupan sekolah, kampus, pesantren, dan lainnya adalah masa-masa yang harus mereka lewati dalam membentuk kemampuan sosial diantara mereka. Memang terkadang pelajaran-pelajaran yang diberikan membuat remaja-remaja ini jenuh. Pada kenyataannya hari libur dan jam kosong merupakan oase ditengah gurun bagi sebagian dari mereka. Ketika pengumuman pemerintah mengenai peliburan sekolah, kampus, dan sektor lainnya, oase yang mereka rasakan selama ini telah berubah menjadi sungai yang mengalir begitu deras. Keharusan untuk cemas dalam situasi ini malahan tidak berlaku bagi sebagian dari remaja-remaja ini.

Pandemi ini telah menawarkan waktu bersantai yang cukup lama bagi remaja-remaja ini. Banyak hal yang dilakukan dimasa hadiah libur pandemi ini. Kebanyakan dari mereka berusaha untuk melakukan interaksi dengan cara baru. Bahkan menurut hasil riset yang disampaikan Head of Content and User Operations TikTok Indonesia, aplikasi video pendek TikTok mencatat kenaikan pengguna  di Indonesia sekitar 20% selama pandemi corona dibandingkan biasanya.  Begitupun media sosial, aplikasi online meeting dan game online juga mengalami peningkatan signifikan. Untuk anak di pedesaan, memancing ke sungai dan berkebun juga merupakan alternatif dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Namun kebanyakan semuanya dilakukan serba online, belajar sendiri dirumah dengan paket internet bulanan di android  masing-masing.

Hal ini malah menimbulkan kecemasan akan bahayanya belajar tanpa guru bagi anak-anak remaja ini. Mengingatkan kembali sebuah anekdot yang berkembang dari para orang tua diwaktu kecil bahwa ‘belajar gerakan sholatpun tak cukup dengan buku saja, harus ada gurunya. Orang yang belajar gerakan sholat lewat buku saja tak pernah rukuk, sujud, dan gerakan lainnya, lah yang ada keterangan gerakan sholat cuma dihalaman pertama pas gambar berdiri doang.’ Begitupun bahaya dimasa sekarang, kepungan tautan-tautan hoax, ujaran-ujaran kebencian menjurus radikalisme, berita konspirasi-konspirasi sejarah yang belum tentu benar, video-video yang kurang mendidik akan mudah mereka akses mengingat keterbatasan interaksi guru dalam memberi saran kepada anak seusia mereka. Hal ini juga diperparah dengan banyaknya orang tua siswa yang belum mengerti benar teknologi yang digunakan anak-anak mereka baru-baru ini. Meskipun demikian, sebaiknya orang tua harus selalu bertanya dan melakukan pendampingan terhadap apa yang diakses anaknya ketika belajar dirumah, bisa juga dengan cara minta diajari kepada anak tentang apa yang sedang di gemari anak-anak seusia mereka, hal ini secara tidak langsung sekaligus mengawasi apa yang mereka kerjakan.

Kesenjangan digital juga sering membuat beberapa pelajar mengalami defisit informasi. Entah itu karena sinyal layanan internet yang belum hadir didaerahnya atau bahkan ada yang belum memiliki HP berbasis android dan sebagainya demi melakukan virtual meeting, sekolah online dan menerima informasi lain-lainnya. Oase yang mereka terima diawal bulan kemarinpun seolah menenggelamkan mereka dalam raut kesedihan, bukan hanya karena korban infeksi virus yang terus bertambah namun karena sadarnya mereka bahwa banyak momen besar yang terlewatkan dikarenakan oleh pandemi ini.

Tidak adanya perpisahan sekolah, belakangan ini perpisahan sekolah telah menjadi momen  besar yang juga ditunggu-tunggu oleh para orang tua. Banyak sekolah telah mengkonsep perpisahan anak didiknya dengan konsep yudisium megah. Proses mengkalungkan Gordon, memanggil siswa-siswi berprestasi, memakai jas dan kebaya, pandemi ini telah membuat semuanya itu menjadi angan saja dimana pengumuman anak sekolah hanya diumumkan lewat kontak  pribadi masing-masing siswa. Sungguh kontras dari apa yang telah dikonsepkan sebelumnya.

Wisuda juga merupakan momen ceremonial paling ditunggu oleh para mahasiswa, tetapi sebagian kampus harus melakukan penundaan. Padahal disinilah puncak dari perjuangan, sebelum masuk ke fase perjuangan berikutnya bukan cuma perjuangan mahasiswa itu sendiri namun juga perjuangan orang tua dalam membiayai perkuliahan mereka selama ini. Ada anggapan bahwa ijazah hanya menandakan bahwa kita pernah sekolah saja, bukan menandakan bahwa kita pernah berfikir. Pernyataan dari salah satu tokoh akademisi terkenal ini sebenarnya bermaksud baik namun belakangan telah digunakan untuk mendiskreditkan orang-orang berijazah dan meng-compare dengan yang lain. Bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam membaca referensi, menulis kembali, meneliti, mengolah, dan mengujikannya didepan para akademisi tentu akan tau perbedaan dengan mereka-mereka yang memperoleh referensi dari blogger-blogger pribadi dan berbagai sumber yang bahkan belum jelas kesahihan sumbernya dan tanpa diujikan pula.

Bukan hanya itu, lulusan sarjana dan siswa ditengah pandemi ini juga dihadapkan pada penilaian remeh dari beberapa orang. Tak jarang beberapa dari mereka juga menyematkan penambahan gelar seperti, Sarjana Pendidikan Corona (S.Pd.,Cor.), Sarjana Teknik Corona (S.T.Cor), anak SD, SMP, SMA disebut lulusan corona dan lain sebagainya. Mereka seolah-seolah dianggap lulusan give away, penuh bonus dan lain sebagainya. Najwa Shihab dalam akun Instagramnya pun berusaha menenangkan dengan menyebutkan bahwa lulusan ini adalah lulusan LDR, lulusan tahan rindu, bukan toga dan ijazah, tapi upaya dan jerih payah, sebagai bukti angkatan lulusan 2020 adalah angkatan emas Indonesia. Memang benar adanya, tanpa disadari lulusan 2020 merupakan lulusan yang jauh lebih berkembang dengan kemampuan digital yang meningkat, penuh kreatifitas, mempunyai mental tangguh ditengah pandemi ini, dan visioner memikirkan pemulihan dunia setelah pandemi ini berakhir. Maka dari itu tak ada pilihan untuk berkecil hati bagi mereka yang lulus di tahun ini.

Untuk adik-adik pelajar dan mahasiswa, pandemi ini boleh saja mengambil sedikit kesempatan  pada beberapa momen besar dalam kehidupan kalian. Namun jangan mau kalah untuk memperbesar harapan akan kesuksesan dikemudian hari. Jangan mau kalah dari cibiran diantara mereka yang bahkan adalah kawan-kawanmu. Jangan terlena waktu bersantai dirumah yang ditawarkan pandemi ini. Apa yang dibaca dan dipelajari hari ini mungkin saja hanya jadi nilai dilembaran kertas raportmu, namun siapa tau akan jadi penolongmu di masa depan. Jadi mari mendisiplinkan diri dalam menghadapi pandemi ini sesuai perannya, ikhtiar sesuai kemampuannya, doa, dan tawakal serta tetap isi kepala dengan hal-hal positif dari literatur-literatur resmi yang jelas sumbernya. Percayalah, selalu ada pulang bagi mereka yang datang apalagi tak diundang.

 

"Karto, S.Pd.,MM"

Oleh: 
Ari Firmansyah
"Ketua Karang Taruna Bekisa Desa Serdang"
"Salah Satu Pembina di Komunitas Pelajar Desa Serdang"

Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh

Berdiam diri tidak memastikan anda terhindar dari tertularnya Virus Covid-19 ini. Tanpa melawan tidak menutup kemungkinan virus ini akan menyerang kita, dikarenakan melemahnya sistem kekebalan tubuh kita untuk menangkal berbagai virus masuk kedalam tubuh, meskipun  kita sudah berdiam diri dirumah. 

Banyak faktor yang mengakibatkan melemahya sistem kekebalan tubuh kita, oleh karena itu tulisan gerakan sederhana melawan Covid-19 ini dibuat untuk mengajak masyarakat semua bersatu melawan Covid-19 tetapi tidak dilakukan dengan cara berkumpul melainkan di lakukan sendiri dan tergolong praktis serta tidak memakan biaya. Berikut beberapa langkah gerakan  sederhana lawan Covid-19 :

1.       Tidur Cukup

Ternyata tidur yang cukup itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh loh! Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa dan orang tua harus tidur setidaknya 7 hingga 9 jam per malam untuk membantu berbagai fungsi tubuh agar berfungsi dengan baik, hal ini tentunya mudah dilakukan. 

2.       Bangun pagi

Tidur terlalu lama ternyata dapat membuat kecemasan loh! yang tentunya dapat mengurangi sistem kekebalan tubuh kita. Oleh karena itu kita disarankan untuk bangun pagi. Bangun pagi dilakukan seluruh umat Islam untuk beribadah Sholat Subuh, juga bisa membuat orang lebih semangat untuk berolahraga dan menghirup udara segar. Olahraga dan menghirup udara segar di pagi hari dapat menenangkan suasana hati dan mampu meningkatkan energi untuk beraktivitas, tentunya hal ini akan membuat kita lebih tenang.

3.       Sarapan 

Salah satu manfaat sarapan pagi adalah sebagai sumber energi. Ini menjadi alasan mengapa sarapan sangat penting dalam memulai hari Anda. Tentunya dengan sarapan membuat anda lebih bersemangat dan lebih kuat sehingga kemungkinan sistem kekebalan tubuh anda menurun itu kecil sekali dikarenakan tubuh anda terisi oleh sumber energi yang berasal dari sarapan anda tadi.

4.       Berjemur 

Berjemur di pagi hari ternyata dapat meningkatkan system kekebalan tubuh loh! Selain itu sinar matahari dipagi hari juga dapat membantu mencegah berbagai penyakit dan penyebab infeksi terutama yang disebabkan oleh virus.

5.       Mandi

Selain membuat badan anda bersih, ternyata mandi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh juga loh! Mandi dapat menstimulasi pembentukan sel imun yang ada di kelenjar getah bening dan pembuluh darah. Saat mandi, produksi sel darah putih dalam tubuh meningkat, sehingga tubuh dapat lebih terlindungi dari ancaman seperti virus, bakteri, jamur, dan sebagainya.

6.       Ibadah 

Setelah banyak usaha yang kita lakukan, kita harus tawakal akan semua yang telah Allah Swt. tetapkan untuk kita. Dengan ibadah, tentu kita akan memiliki keyakinan lebih untuk  menang melawan Covid-19 yang didasarkan pada tata cara dan syariat agama masing-masing. Ibadah dilakukan bukan hanya sekedar proses akan tetapi inilah bentuk syukur dan ridha kita kepada Tuhan Yang Maha Esa yang maha menciptakan segala sesuatu atas kehendaknya.

Demikian beberapa langkah sederhana melawan Covid-19 ini. Pada intinya, walaupun segala aktivitas dibatasi, kita harus tetap melawan dengan kiat-kiat diatas demi meningkatkan kesehatan tubuh. Semoga bermanfaat dan mari bersama-sama kita berdo’a, semoga pandemi ini segara berakhir. 

 Wassalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh

“Ari Firmansyah”

        


Klik link dibawah ini untuk pendaftaran:

 Buku ini telah terbit pada Desember 2019 kemarin. berisikan keresahan-keresahan tentang Desa ku, keresahan setelah lulus kuliah dan karya terbesar setelah saya lulus kuliah yaitu Komunitas Pelajar Desa Serdang. seperti salah satu paragraf kutipan dalam buku

"Merekalah keluarga tanpa kartu keluarga bagi saya. Banyak hal pula yang bisa dipelajari dari anak-anak ini. Sebuah kepolosan dan kejujuran yang masih tertanam seolah-olah me-reset isi kepala ini untuk tidak terlalu jauh terjerumus di dunia yang sudah semakin merajalela ini. Komunitas ini merupakan karya terbesar kami yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi mereka, menjadi filter bagi mereka untuk berfikir dan bertindak. Komunitas seperti oase di tengah gurun yang kadang mampu meleburkan kepenatan dari rutinitas bekerja."




 Perkuliahan dan perantauan bukan hanya sekedar belajar lalu pulang bagi saya pada waktu itu. Banyak hal yang saya rasakan semasa itu, wanita, orang tua, sahabat, orang yang saya suka, dan tentang diri sendiri.

Saya seperti orang yang hanya berbicara pada kertas lewat pena ketika sudah harus menggambarkan bagaimana mereka-mereka itu.

saya tidak pernah berani mengungkapkan apa saja yang saya pikirkan tentang mereka--mereka itu. saya memilih menikmati masa-masa bersama mereka tanpa harus mengomentari segala perbedaannya.

lewat buku pertama inilah saya terjemahkan dengan bahasa kiasan singkat tentang apa saya ini? apa mereka itu?

Buku ini telah terbit pada november kemarin lewat seleksi naskah untuk penerbitan gratis. alhamdulillah lolos seleksi dan semoga dapat mewakili dan menjadi kenangan tersendiri terutama bagi saya sendiri.


Tantangan mematikan dalam aspek pembangunan berkelanjutan di era sekarang ini bukan lagi didominasi aspek dari eksternal. Hal yang harus dikhawatirkan adalah pribadi-pribadi di dekat kita yang salah dalam menempatkan prasangka pada ranah yang sebenarnya hingga menjadi upaya propaganda untuk membunuh dari dalam. Setiap manusia dalam lingkup individu maupun sosial kemasyarakatan tidak lepas dari yang namanya prasangka. Manusiawi sekali, namun setiap individu tentu menyikapinya dengan berbeda. Charles R. Swindoll mengemukakan bahwa berprasangka adalah perilaku yang dipelajari, kita tidak terlahir penuh dengan prasangka, namun kita diajari untuk berprasangka. Diajari berprasangka berarti membuat hipotesa yang nantinya akan dibuktikan dengan penelitian-penelitian tertentu.
Prasangka memiliki klasifikasi, menurut John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori diantaranya prasangka kognitif yaitu prasangka yang bertumpu pada apa yang dianggap benar, prasangka afektif yaitu prasangka yang menitik beratkan pada apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, dan yang terakhir prasangka konatif yaitu prasangka yang merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak. Dasar-dasar dalam berprasangka ini tentu secara harfiah melekat pada diri manusia sebagai individu untuk melakukan penelitian lebih lanjut, tuntutan untuk mencari informasi mengenai manusia lain, kelompok-kelompok tetentu, dan ilmu lainnya, agar dapat membuktikan dan memuaskan dan membuktikan dasar-dasar prasangka yang telah  ditetapkan didalam individu masing-masing.
Permasalahannya sekarang ini adalah prasangka-prasangka ini menjadi buruk disaat  individu-individu ini menempatkan prasangka sebagai dasar dan juga langsung menjadikan prasangka ini sebagai hasil akhir. Pribadi-pribadi malas seperti ini enggan melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut agar informasi yang disampaikan valid dan laik di kemukakan ke masyarakat. Menjadi sumber dari segala permasalahan-permasalahan fatal dan rasa kebencian dikalangan masyarakat untuk saling mencaci, mencurigai, menghina, mengkafirkan, dan lain sebagainya.
Prasangka buruk inilah yang telah mematikan semangat bergotong-royong di kalangan masyarakat pedesaan yang sebenarnya terkenal dengan budaya bergotong royong yang kental sesama warganya. Ketika ada salah satu perwakilan pemerintah desa atau lainnya mengajak untuk bergotong royong dalam pembangunan desa masyarakat di provokasi agar enggan untuk saling membantu dengan alasan dana desa yang begitu besar tidak termanfaatkan takut habis di korupsi. Bahkan ketika ada inisiator dari kalangan masyarakat biasa mengajak kearah perubahan lebih baik merekapun enggan untuk bergotong royong saling membantu karena menyimpan prasangka bahwa si inisiator inilah yang bakal mendapat uang banyak dari pemerintah ketimbang mereka yang bekerja. Prasangka buruk inilah yang telah merusak semangat-semangat para akademisi yang lahir dari desanya lebih memilih untuk pergi meninggalkan desanya.
Prasangka buruk yang tumbuh dalam diri setiap individu inilah yang telah membuat pembangunan menjadi stagnan, bukanlah tantangan dari luar. Berprasangka buruk telah banyak memecah belah semua kalangan. Antar teman, antar saudara, antar rekan kerja, dan lain sebagainya. Dasar berprasangka tanpa di ikuti dengan penelitian tentu dapat membawa kekacauan bagi kehidupan bermasyarakat. Pemimpin berprasangka buruk terhadap rakyat, rakyat berprasangka buruk terhadap pemimpin, rakyat dan rakyatpun tidak ketinggalan untuk saling beradu kesimpulan tanpa penelitian. Prasangka buruk merupakan senjata ampuh dalam pembunuhan karakter seseorang.
Prasangka buruk dijadikan suatu bentuk pembenaran dari suatu kesalahan. Orang-orang yang biasa berprasangka buruk adalah orang-orang yang ingin mencari pembenaran atas apa yang ia pikirkan bukannya mencari kebenaran. Mempengaruhi orang banyak, memprovokasi, dan lain sebagainya hingga banyak yang mengiyakan pula. Hal ini justru lebih berbahaya dari virus apapun dalam menjaga keutuhan NKRI ini. Bahkan mereka-mereka yang dengan tulus berdedikasi untuk masyarakat malah dianggap musuh yang harus dibasmi. Apa saja bisa menjadi bahan prasangka, tetangga membeli motor baru, mobil baru, rumah baru, mulailah individu pemalas tadi berspekulasi. Kita terlalu sibuk memperbaiki tatanan bernegara ini dilihat dari luar, membuat benteng setinggi-tingginya, tanpa disadari kita sedang digerogoti dari dalam oleh provokator-provokator yang mungkin diantaranya sedang duduk di sebelah kita.

'Karto,S.Pd.,MM.'



PRASANGKA

GAGASAN PROGRESIF PRAKTIK POLITIK RAKYAT
Oleh : Karto

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sistem pemerintahan Demokrasi. Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bangsa Indonesia dari mulai tingkat kota maupun desa tidak akan pernah terlepas dari pemilihan umum. Dalam kurun waktu lima tahun, hampir setiap tahun selalu ada pemilihan calon pemimpin ditingkat atas maupun tingkat bawah, dari mulai pemilihan presiden dan wakil presiden hingga pemilihan ketua RT dan RW. Hal ini semata-mata untuk mendapatkan pemimpin yang mampu melaksanakan kekuasaan terbatas dengan berprinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat tadi.
Sejak tahun 1955 hingga sepanjang pemilu orde baru di tahun 1999, rakyat belum pernah merasakan memilih langsung calon kepala negara mereka. Rakyat melakukan pemilu hanya untuk memilih wakil rakyat di tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat yang nantinya akan mewakili mereka dalam pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Rakyat hanya menjadi penonton dari apa yang akan disuarakan oleh wakil rakyat yang mereka pilih terhadap calon presiden dan wakil presiden berikutnya. Hal ini tentu akan menimbulkan tanda tanya dan kekhawatiran tersendiri dikalangan rakyat tentang wakil rakyat mereka yang memilih berdasarkan kepentingan rakyat atau hanya kepentingan-kepentingan jabatan tertentu. Sepanjang perjalanannya, pemimpin-pemimpin yang terpilihpun baik tingkat atas maupun bawah dianggap rakyat tidak mampu menjalankan amanah dengan baik. Di tahun 1998 dimana mahasiswa sebagai garda terdepan dalam mewakili suara rakyat untuk memaksa mundurnya para elit penguasa saat itu. Maka reformasi dianggap akan menjadi solusi bagi Indonesia di masa itu.
Sejarah mencatat bahwa Pemilu Tahun 2004 merupakan tonggak demokratisasi Indonesia pasca Reformasi. Masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya bisa memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung tanpa harus bergantung kepada suara-suara yang disampaikan para wakil rakyat mereka. Tahun 2004 menjadi periode tersibuk bagi KPU saat itu, dimana dalam satu tahun mereka harus menyelenggarakan tiga kali pemilu yaitu pemilu DPR, DPD, dan DPRD, pemilu Presiden  dan Wakil Presiden putaran pertama, dan yang terakhir memilih Presiden dan Wakil  Presiden putaran kedua. Faktanya permasalahan-permasalahan mayor di Indonesia ini pun tidak menunjukkan penurunan yang signifikan lewat hasil pemilu secara langsung ini. Adanya kebijakan otonomi daerah juga mengindikasikan bahwa permasalahan-permasalahan yang terjadi ditingkat bawah bukanlah sepenuhnya tanggung jawab pusat namun menjadi tanggung jawab pemimpin-pemimpin dibawahnya yang telah kita pilih secara pemilu juga.
Ditahun 2019, rekor pemilu langsung tersibuk sepanjang sejarah akhirnya terpatahkan. KPU seolah-olah senang sekali menyibukkan diri. Bagaimana tidak, pemilu yang sebelumnya dilaksanakan bergantian dalam hitungan bulan sepanjang satu tahun dilaksanakan hanya dalam satu hari saja. Pemilu tersibuk sepanjang sejarah bukan hanya menjadi gambaran berlebihan bagi pemilu kali ini. Ada lima surat suara dengan berbagai warna yang harus di  coblos. Surat suara untuk Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten. Pemilu kali ini berhasil menghasilkan suara terbanyak bagi calon presiden periode sebelumnya menjadi calon Presiden Republik Indonesia periode Tahun 2019-2024 mendatang namun dengan wakil yang berbeda.
Belum selesai pelantikan resmi calon presiden dan wakil presiden yang di menangkan KPU, berbagai masalah kembali terjadi di Indonesia ini. Adanya RUU kontroversional, kenaikan tarif-tarif tertentu yang dinilai tidak  pro rakyat, dan lain sebagainya. Bahkan mahasiswa hampir di seluruh provinsi di Indonesia menggelar aksi turun ke jalan menyampaikan aspirasi yang rata-rata digelar di depan gedung DPRD Provinsi dan Kantor Gubernur. Adu pemikiran antara mahasiswa dan para pemegang kekuasaan di media-media tertentu pun tidak terelakan. Beberapa aksi juga sering terjadi kekacauan antara pihak mahasiswa dan aparat pengamanan. Berbagai video-video pendek tentang tindak kekerasan aparat maupun mahasiswa tersebar luas di media sosial yang entah benar atau hanya sekedar hoax namun sukses menimbulkan kesan negatif bagi mahasiswa, pemerintah dan aparat pengamanan. Berbagai tulisan sindiran tersebar di media sosial tentang bagaimana kinerja pemimpin dan wakil rakyat mereka. Bahkan ada mosi tidak percaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa kepada para wakil rakyat yang sebelumnya dipilih langsung oleh masyarakat yang mungkin salah satunya yang memilih adalah keluarga mereka. Pada intinya seminggu itu, Indonesia sempat memanas dan kekhawatiran tentang tragedi 1998 pun muncul kembali.
Kalau kita perhatikan mau bagaimanapun sistem pemilihannya, permasalahan-permasalahan pasca pemilu itu pasti terjadi di Indonesia ini. Pemicunya hampir sama yaitu kebijakan-kebijakan baru, proses penanggulangan bencana, perekonomian, dan yang paling utama adalah aspirasi dan pelaksanaan kebijakan yang tidak sepenuhnya diperjuangkan oleh beberapa pemegang tampuk kekuasaan di daerah serta oknum wakil rakyat yang dipilih rakyat pada saat pemilu. Hal ini tentunya menjadi beban pemikiran tersendiri bagi kita bersama. Pernahkan kita merefleksikan diri, bagaimana diri kita sebagai rakyat pada saat memilih calon wakil rakyat tersebut? Sudahkah kita mengenal figur yang akan kita pilih? Kenapa bisa yang terpilih adalah beberapa orang yang bahkan memiliki track record buruk dalam masyarakat? Apakah turun ke jalan akan selalu menjadi cara yang dipilih untuk membenahi negeri ini? Adakah cara lain yang lebih awal untuk direncanakan sehingga mencari solusi ke jalan berujung kekacauan ini tidak lagi menjadi pilihan satu-satunya. Sehingga kita para rakyat tidak terlalu menyesali hasil dari suatu pemilu dan terkesan hanya dipersiapkan untuk memperingati mereka-mereka yang telah kita pilih dikemudian hari. Hal ini tentu lebih urgent untuk ditelaah demi Indonesia dimasa depan.

Praktik Politik Uang, Akar dari Segala Permasalahan
Pada sejarahnya, Pemerintah Kolonial Belanda pernah memberikan kesempatan dan membebaskan rakyat untuk memilih kepala desanya sendiri yang sebelumnya kepala desa dipilih berdasarkan garis keturunan dari kepala desa sebelumnya. Politik uang merupakan cara halus namun kotor Pemerintahan Kolonial Belanda dalam menyingkirkan para calon kepala desa yang berpotensi akan memberontak jika terpilih sebagai kepala desa pada saat itu. Cara yang dilakukan adalah dengan mencalonkan orang-orang kepercayaannya untuk ikut dalam bursa pemilihan Kepala Desa dan membujuk sebagian besar pemilih agar memilih calon yang mereka usung. Tentu saja dengan memberikan imbalan dalam bentuk uang atau barang. Sejak saat itulah politik uang mulai berkembang di Indonesia.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. Disitu diatur bahwa baik pemberi maupun penerima 'uang politik' sama-sama bisa kena jerat pidana berupa hukuman penjara. Pada Pasal 187A ayat (1), Undang-Undang tentang Pilkada diatur, setiap orang yang sengaja memberi uang atau materi sebagai imbalan untuk memengaruhi pemilih maka orang tersebut dipidana penjara paling singkat 36 bulan dan paling lama 72 bulan, plus denda paling sedikit Rp 200 juta hingga maksimal Rp 1 miliar. Pada Pasal 187A ayat (2), diatur ketentuan pidana yang sama diterapkan kepada pemilih yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum, menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Disini cukup jelas bahwa praktik politik uang dilarang dalam realisasi pesta demokrasi di Indonesia ini.
Masyarakat kalangan menengah ke bawah selalu menjadi sasaran para pelaku politik dalam memperbesar peluang terpilih dengan cara politik uang tadi. Dikalangan pedesaan bahkan pemilihan anggota BPD, Kades, dan DPRD Kabupaten maupun Provinsi sistem politik uang ini menjadi ajang yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Sosialisasi-sosialisasi tentang larangan-larangan dalam masa kampanye dianggap sebagai angin lalu oleh masyarakat dan si calon itu sendiri. Tidak adanya garansi sebagai pemenang membuat kebanyakan para calon kerap kali menggunakan jalan pintas untuk menggapai kekuasaan dengan melakukan praktik-praktik kotor seperti yang kita kenal dengan sebutan “money politics”. Semua telah sadar betul di Indonesia fenomena politik uang masih menggejala sedemikian akut sehingga ritme permainan politik sangat susah untuk dijauhkan dari praktik-praktik politik uang.
Diluar regulasi di Indonesia yang melarang adanya praktik uang dalam pesta demokrasi, politik uang juga akan sangat berdampak pada mental masyarakat. Dalam pembahasan ini bukan membahas dampak politik uang itu terhadap demokrasi itu sendiri namun lebih ke melihat dampak dari politik uang terhadap masyarakatnya langsung. Mental masyarakat akan sangat terlatih untuk mengharapkan adanya peredaran uang dari calon-calon pemimpin kedepan. Padahal yang kita pilih ini adalah orang-orang yang nantinya akan membantu kita, mewakili kita dalam hal pembangunan berkelanjutan. Bukan hanya membantu ongkos bensin di hari pemilihan tersebut. Banyak faktor yang membuat masyarakat berfikir seperti itu, salah salah satunya adalah berkurangnya tingkat kepercayaan kepada calon pemimpin mejadi faktor terjadinya hal ini. Namun justru hal inilah yang dimanfaatkan orang-orang jahat tersebut untuk memperoleh kekuasaan lewat cara praktik politik uang tadi.

Pemutusan Mata Rantai Praktik Politik Uang
Dimasa kampanye seorang calon terutama calon legislatif, dewasa ini akan sangat sulit mendengar janji maupun visi-misi yang keluar dari para calon dimasa mendatang jika ia terpilih sebagai wakil rakyat. Mereka lebih memilih  untuk duduk manis dirumah dan lebih sibuk menyiapkan modal uang untuk disebarkan ke masyarakat. Benar saja, setelah melihat hasil pesta demokrasi yang dilakukan di kalangan masyarakat pedesaan baru-baru  ini, salah satu faktor penyebab terbesar kemunduran pembangunan adalah mental masyarakatnya yang belum siap keluar dari jeratan politik uang. Kebanyakan masyarakat bahkan tidak segan menawarkan berapa harga untuk  satu suara dari mereka.
Masyarakat harus sadar, bahwa lemahnya ekonomi masyarakat akan selalu menjadi senjata ampuh agar oknum-oknum jahat itu kembali terpilih. Kebutuhan ekonomi satu hari, asal ada uang bensin, asal bisa mengganti pemasukan satu hari, hal-hal tersebut merupakan syarat yang sering diajukan masyarakat kepada calon wakil rakyat jika ingin dipilih oleh mereka. Logika sederhananya seperti sebuah rantai, masyarakat memilih karena uang dikarenakan faktor kebutuhan ekonomi satu hari saja, pemimpin terpilih disibukkan dengan usaha mengembalikan modal, masyarakat merasa tidak dihiraukan pemimpin, akhirnya demo yang tidak dipedulikan, ekonomi msayarakat tetap lemah, senjata agar terpilih kembali di periode berikutnya, begitulah seterusnya berputar-putar seperti sebuah rantai.
Masyarakatlah yang harus lebih cerdas dan berani mengatakan tidak pada penerimaan uang saat pemilihan pemimpin karena kita butuh kemajuan ekonomi berkelanjutan, bukan hanya satu hari ini saja. Biarkanlah setiap calon untuk beradu visi dan misi dengan cara apapun termasuk pencitraan ataupun lain sebagainya biarkan saja, nanti masyarakatlah yang akan memutar otak menyeleksi setiap perkataan dan perbuatan si calon minimal di masa kampanye hingga pada titik kita bisa menyimpulkan yang mana calon terbaik diantara yang baik. Kembalikan pesta ini ke ajang kecerdasan baik yang memilih maupun yang terpilih. Jangan biarkan masyarakat memilih tanpa tahu benar figur siapa yang akan mereka pilih.

Gagasan Sederhana Menuju Perubahan
Perubahan berasal dari setiap individu masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus lebih rajin mencari tahu tentang figur-figur yang akan mereka pilih. Keyakinan tentu tetap terjaga bahwa masih banyak sosok-sosok wakil rakyat yang memang benar-benar bekerja untuk rakyat. Berani mengambil resiko demi kepentingan umum dibanding kepentingan kelompoknya dalam hal ini partai sebagai kendaraan politiknya. Masyarakatlah yang memegang peran terbesar, ingin bagaimana pemimpin yang mereka pilih. Ingin pemimpin berhamburan uang atau pemimpin yang mempunyai visi misi jelas.
Mari kita kembalikan demokrasi di negeri ini ke sediakala. Sebelum oknum-oknum politik itu sendiri yang berbuat kotor sehingga membuat dunia politik seolah-olah dunia mafia. Politik uang telah merusak citra politik itu sendiri. Bahkan bukan hanya politik itu sendiri  yang tercoreng melainkan juga para oknum pemuka agama. Banyaknya pelaku politik yang mengatasnamakan agama lalu melakukan suap ke masyarakat sungguh hal memalukan untuk dilakukan. Masyarakat harus mulai cerdas, memilih dengan penuh pertimbangan kemampuan para calon. Kalaupun suatu saat apa yang menjadi aspirasi kita yang gagal diperjuangkan, maka kita boleh aktif dalam menyampaikan aspirasi bagi para pemimpin.
Mahasiswa-mahasiswa yang terbiasa membela kepentingan rakyat didepan gedung-gedung pemerintahan harus mulai berfikir kembali, yang mana langkah yang harus didahulukan dalam meningkatkan peran pemerintah. Sebelum adanya kegiatan pemilu, baik pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, DPRD, buatlah ijin ke kampus masing-masing, untuk membangun sebuah gerakan ramai-ramai mahasiswa terjun langsung ke masyarakat sebelum digelarnya pemilihan. Mulai sebuah program untuk memberikan edukasi politik sehat dikalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah yang dewasa ini memang terkesan menunggu adanya praktik politik uang agar yang terpilih nantinya merupakan orang-orang terbaik. Mulailah dengan memberikan pengertian kepada masyarakat untuk rajin melihat rekam jejak figur yang akan menampilkan dirinya sebagai pemimpin.

Hal ini justru patut dicoba dan ditargetkan akan lebih bermanfaat untuk terpilihnya pemimpin yang tidak terlalu jahat diantara yang paling jahat dan memilih yang terbaik dari yang baik. Sikap kritis keras di media sosial dan demo-demo yang dilakukan didepan gedung para pemangku kebijakan seharusnya menjadi langkah terakhir yang merupakan sebuah kontrol. Sebuah kontrol harus selalu didahului oleh perencanaan dan aktualisasi sehingga mereka yang terpilih benar-benar dari hasil pertimbangan seluruh masyarakat. Jika upaya-upaya memberantas praktik politik uang diatas belum dilakukan, kegiatan controlling yang dilakukan akan sangat sia-sia karena mereka telah dipilih berdasarkan kesalahan diri kita sendiri sebagai pemilih. Mulailah memberi solusi diawal kemudian baru mengontrol, jangan beramai-ramai terjun ke jalan sebelum didahului usaha-usaha untuk terjun ke masyarakarat dalam mengedukasi masyarakat terhadap praktik politik rakyat yang sehat. ‘Apa yang ingin kita bela jika yang dibela belum memahami darimana permasalahan yang menimpa mereka berasal?’. 

- Copyright © BANGKU BELAKANG - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -